JAKARTA, PERGATSI – Pengurus Besar Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PB
PERGATSI) mematangkan persiapan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan
Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Gateball 2026.
Agenda nasional tersebut menjadi momentum untuk
memperkuat konsolidasi organisasi, mengevaluasi program pembinaan, sekaligus
meningkatkan kualitas penyelenggaraan pertandingan.
Ketua Umum PB PERGATSI Diana Kusumastuti
menegaskan, seluruh jajaran organisasi, mulai dari tingkat pusat hingga daerah,
harus berada dalam satu visi, arah, dan komitmen untuk mengembangkan olahraga
Gateball di Indonesia.
“Seluruh PERGATSI, dari pusat sampai
daerah, harus berada dalam satu visi, satu arah, dan satu komitmen,” kata Diana
dalam rapat konsolidasi persiapan Rakernas dan Kejurnas Gateball 2026 secara
daring.
Menurut dia, kepentingan organisasi harus
ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu,
konsolidasi internal perlu terus dilakukan agar roda organisasi berjalan lebih
solid dan responsif terhadap berbagai persoalan di daerah.
Diana juga meminta dibangun sistem
komunikasi organisasi yang lebih teratur, terbuka, dan cepat merespons
persoalan. Dengan komunikasi yang baik, setiap kendala yang muncul di daerah
diharapkan dapat segera diketahui dan dicarikan solusinya.
“Setiap persoalan di daerah harus segera
diketahui dan tentunya harus ada solusinya,” tegasnya.
Diana mengatakan, setiap bidang di PB
PERGATSI perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kerja yang telah
diamanatkan dalam PUNAS. Hasil evaluasi tersebut nantinya menjadi bahan untuk
menyusun program prioritas organisasi ke depan.
Ia menilai perubahan kondisi olahraga saat
ini menuntut organisasi untuk tidak sekadar menjalankan program secara rutin,
tetapi juga melakukan evaluasi dan penyempurnaan secara berkala.
Penguatan pembinaan menjadi salah satu
perhatian utama. Tidak hanya atlet, pembinaan juga perlu menyasar wasit,
pelatih, peserta, hingga perangkat pertandingan.
“Kualitas pelatih, wasit, juri, serta
perangkat pertandingan mesti kita tingkatkan,” ujarnya.
Selain peningkatan kualitas sumber daya
manusia, PERGATSI juga akan mengevaluasi berbagai kekurangan dalam pelaksanaan
pertandingan serta menyempurnakan regulasi organisasi.
Diana menekankan pentingnya pola pikir yang
lebih terbuka dan bijaksana dalam mengelola organisasi. Ia juga mendorong
PERGATSI untuk membangun kemandirian pembiayaan dan tidak sepenuhnya bergantung
pada APBN.
“Kita harus mandiri, berdikari,” katanya.
Ketua Harian PB PERGATSI Khalawi AH
menjelaskan, Rakernas/Kejurnas Gateball 2026 direncanakan berlangsung pada
19–24 Oktober 2026 di Jakarta. Pelaksanaan yang sebelumnya direncanakan pada
waktu lebih awal mengalami beberapa kali penyesuaian jadwal.
Menurut Khalawi, perubahan jadwal dilakukan
dengan mempertimbangkan kesiapan penyelenggaraan dan penyesuaian anggaran.
Dalam persiapan terbaru, Kejurnas akan mempertandingkan 11 nomor sesuai
semangat dan ketentuan pembinaan olahraga prestasi.
Sebanyak 11 nomor tersebut meliputi beregu
putri, ganda putri, beregu putra, ganda putra, beregu campuran, ganda campuran,
triple putri, tunggal putri, triple putra, tunggal putra, dan triple campuran.
Khalawi mengatakan, ketentuan usia peserta
juga menjadi salah satu isu yang akan dibahas lebih lanjut dalam Rakernas. Saat
ini terdapat usulan agar batas usia maksimal peserta ditinjau kembali sehingga
kesempatan bermain dapat terbuka lebih luas.
“Masalah batasan umur nanti akan dibahas
dalam Rakernas,” ujarnya.
Dari sisi teknis, panitia merencanakan
penggunaan 12 lapangan dalam Kejurnas Gateball 2026. Untuk mendukung
pelaksanaan pertandingan, dibutuhkan sekitar 24 wasit, 24 asisten wasit yang
sekaligus bertugas sebagai pencatat skor, serta 48 penjaga garis.
PB PERGATSI juga membuka ruang bagi
Pengprov untuk mengirimkan wasit guna meningkatkan pengalaman dan jam terbang.
Namun, kualitas dan kelayakan wasit tetap menjadi perhatian utama.
Pengurus bidang perwasitan PB PERGATSI
menyatakan kesiapan untuk menyusun komposisi perangkat pertandingan setelah
data dari daerah diterima.
Selain perangkat pertandingan, panitia juga
mempersiapkan kebutuhan lapangan, peralatan, akomodasi, transportasi,
kesehatan, keamanan, publikasi, dan dokumentasi.
Diana meminta seluruh persiapan tersebut
dilakukan secara menyeluruh dan profesional.
“Persiapan Kejurnas harus dilakukan secara
menyeluruh dan profesional, mulai dari aspek teknis pertandingan, perangkat
pertandingan, lapangan, peralatan, akomodasi, transportasi, kesehatan,
keamanan, publikasi maupun dokumentasi,” sambungnya.
Diana juga mengingatkan agar Kejurnas tidak
hanya menjadi ajang perebutan prestasi, tetapi sekaligus menjadi tolok ukur
keberhasilan pembinaan Gateball secara nasional.
Karena itu, budaya pertandingan yang sehat
harus dibangun melalui penerapan fair play, disiplin, sportivitas, dan sikap
saling menghormati.
Penggunaan anggaran juga menjadi perhatian.
Diana meminta seluruh jajaran mengelola dana secara efisien, transparan, dan
bertanggung jawab.
“Jangan sampai kita salah mengambil
keputusan. Saya mohon kita bersih dari itu semuanya,” ujarnya.
Ia kemudian meminta Ketua Harian bersama
jajaran segera membentuk kepanitiaan Rakernas dan Kejurnas, termasuk menetapkan
ketua pelaksana serta pembagian bidang agar persiapan dapat berjalan lebih
terstruktur.
Selain persiapan Kejurnas, forum
konsolidasi juga menyoroti pentingnya regenerasi atlet. Ketua Komisi Disiplin
KONI Pusat, Budi Sulistijono, menilai pembinaan usia muda perlu menjadi agenda
yang lebih serius.
Menurutnya, komposisi pemain Gateball saat
ini masih didominasi kelompok usia yang lebih senior. Karena itu, diperlukan
strategi agar olahraga Gateball dapat masuk lebih luas ke sekolah-sekolah dan
menjangkau generasi muda di berbagai daerah.
Pembinaan usia muda dinilai penting untuk
menjaga keberlanjutan prestasi Gateball Indonesia sekaligus memperluas basis
pemain.
Di sisi lain, Gateball juga memiliki
karakter sebagai olahraga masyarakat. Karena itu, pengembangan olahraga ini
dinilai tidak harus semata-mata berorientasi pada kelompok usia prestasi,
tetapi juga perlu memberikan ruang bagi pemain dari berbagai kelompok usia.
“Pembinaan usia muda perlu diperkuat,
tetapi kita juga tidak bisa mengabaikan pemain senior yang selama ini menjadi
bagian dari perkembangan Gateball,” kata Budi dalam forum tersebut.
Menurut dia, Kejurnas dapat menjadi salah
satu instrumen untuk memberikan ruang kompetisi yang lebih luas bagi para
pemain sekaligus mempersiapkan atlet menuju berbagai agenda olahraga nasional. (PAH/CHI)