Tripel Campuran Bali Berjaya di Piala Menteri PU

Berita
26 Feb 2026

Tripel Campuran Bali Berjaya di Piala Menteri PU

Tim tripel campuran asal Bali mencuri perhatian dalam Kejuaraan Internasional Gateball Piala Menteri Pekerjaan Umum (PU) di Jakarta. Tampil tanpa banyak sorotan sejak awal, trio I Kadek Artana (29), I Gusti Agung Baskara (23), dan Ni Made Calya Pramesti (16) justru melangkah konsisten hingga menutup turnamen sebagai juara.

Kejuaraan yang digelar yang dilaksanakan 12-14 Desember 2025 di Lapangan B Gelora Bung Karno, Jakarta, itu menjadi ajang internasional pertama berskala besar yang diselenggarakan di Indonesia. Bagi Artana, turnamen ini bukan sekadar kompetisi, melainkan pengalaman berharga yang membanggakan.

“Ini turnamen yang sangat besar dan pertama kali ada di Indonesia. Kami bangga bisa ikut, apalagi bisa sampai juara,” ujar Artana dalam wawancara dengan Redaksi Tabloid Gateball, Minggu (28/12/2025), melalui aplikasi Zoom.

Tim Bali ini bertanding membawa nama Klub Lentera Badung, meskipun berasal dari latar klub yang berbeda. Artana dan Calya merupakan atlet Lentera Badung, sementara Gung Wira memperkuat PMI Badung. Komposisi ini terbentuk karena keterbatasan kuota klub, tetapi justru melahirkan tim dengan hasil yang membanggakan.

Di babak penyisihan, Lentera Badung tampil meyakinkan. Dari tiga pertandingan di fase grup, mereka menyapu bersih kemenangan dan keluar sebagai juara pool. Momentum itu terus berlanjut hingga fase gugur, sebelum akhirnya memastikan medali emas di partai final. 

Memahami Karakter

Menariknya, kekompakan tim tidak dibangun dalam waktu lama. Artana mengakui, latihan intensif bersama baru dilakukan sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan ke Jakarta.

“Secara jujur, saat latihan kami bertiga hampir tidak pernah menang. Justru sering kalah dari tim lain,” katanya sambil tertawa.

Namun, kekompakan justru muncul pada saat pertandingan sesungguhnya. Kunci utamanya, menurut Artana, adalah saling percaya dan memahami karakter masing-masing pemain, yang sebagian sudah terbentuk sejak Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali.

Bagi Calya, kemenangan ini terasa sangat istimewa. Atlet berusia 16 tahun itu untuk pertama kalinya tampil di luar Bali, sekaligus mengikuti turnamen internasional.

“Awalnya grogi sekali. Apalagi bermain dengan kakak-kakak yang lebih senior,” ujar siswi kelas X salah satu SMA di Badung.

Meski demikian, jam terbang Calya terbilang matang. Ia telah mengenal gateball sejak kelas IV SD dan rutin mengikuti kejuaraan daerah. Di Porprov Bali terakhir, Calya menyumbang emas beregu putri dan perak tripel putri untuk Kabupaten Badung.

Pengalaman panjang itu membuat Calya mampu beradaptasi cepat. Bahkan, sepulang dari Jakarta, ia mengaku banyak teman sekolah yang mulai tertarik pada gateball.

“Mereka tanya cara mainnya. Terus mereka tertarik karena gateball bisa sampai internasional. Ada juga yang mau ikut ekstrakurikuler di sekolah,” katanya.

Gung Wira pun merasakan atmosfer berbeda di Piala Menteri PU. Meski sudah akrab dengan turnamen regional, kejuaraan ini memberinya gambaran nyata tentang standar internasional.

“Wasitnya profesional, atmosfernya kompetitif, dan lapangannya bagus. Ini sangat baik untuk perkembangan gateball Indonesia,” ujarnya.

Final Sesama Bali

Final kategori tripel campuran mempertemukan dua tim Bali. Lentera Badung harus menghadapi wakil Kabupaten Gianyar. Pertandingan berlangsung ketat, tetapi pengalaman dan ketenangan Lentera Badung menjadi pembeda.

Atas kemenangan tersebut, tim tripel campuran Bali membawa pulang hadiah Rp 30.000.000. Namun, bagi Artana, nilai terbesar bukan pada angka.

“Ini jadi motivasi besar. Mudah-mudahan ke depan gateball bisa masuk SEA Games 2027. Itu mimpi kami,” katanya.

Ketiganya sepakat, Piala Menteri PU layak dijadikan agenda tahunan. Artana berharap jumlah peserta ke depan diperbanyak agar persaingan semakin ketat dan kualitas atlet nasional meningkat.

Ia juga mendukung kebijakan panitia yang mewajibkan surat rekomendasi klub atau pengurus daerah. Menurut dia, aturan itu penting untuk menjaga kualitas dan tanggung jawab atlet.

Terkait syarat bahwa setiap atlet gateball perlu mendapat rekomendasi dari pengurus daerah Pergatsi, ketiga atlet mengaku tidak keberatan. “Dengan rekomendasi, jelas atlet ini di bawah naungan siapa. Klub dan daerah juga bangga kalau atletnya tampil dan berprestasi,” ujar Artana.

Kisah Artana, Gung Wira, dan Calya dari Badung ini menunjukkan bahwa regenerasi gateball Indonesia sedang berjalan. Dengan kompetisi yang konsisten dan sistem pembinaan yang kuat, mimpi tampil di panggung Asia Tenggara bukan lagi sekadar angan. (HRZ/PAH)