Langkah tim tripel campuran Kabupaten Gianyar di Kejuaraan Internasional Gateball Piala Menteri Pekerjaan Umum (PU) 2025 berhenti satu poin dari gelar juara. Namun, posisi peringkat kedua yang mereka raih justru menegaskan satu hal penting: gateball Bali, khususnya Gianyar, memiliki fondasi kuat dan berkembangan pesat.
Dalam kejuaraan yang digelar di Jakarta pada 12-14 Desember 2025 itu, Gianyar diwakili oleh empat atlet: I Made Erlangga Wiguna (28), Ni Wayan Riantini (22), Komang Tegar Sujiarsana (20), dan I Gusti Made Wisnawa (25). Mereka tampil atas nama Pergatsi Gianyar, dengan dukungan klub asal daerah, hasil penggabungan dua basis pembinaan utama di Gianyar, Kebu Iwe dan Jatayu.
“Kami datang berempat. Tiga pemain inti dan satu cadangan. Target awal tentu ingin tampil maksimal. Bisa sampai final dan juara dua, itu sudah sangat kami syukuri,” ujar Erlangga, kapten tim, kepada Redaksi Tabloid Gateball dalam wawancara melalui aplikasi Zoom, Senin (29/12/2025).
Juara Pul
Perjalanan Tim Gianyar ini sejak babak penyisihan turnamen dengan 64 tim peserta itu terbilang solid. Mereka tergabung dalam pul yang berisi tim-tim berpengalaman, yakni wakil Sulawesi Utara, Bangka Belitung, dan Sumatera Barat. Tiga kemenangan beruntun mengantar Gianyar keluar sebagai juara pul dan melaju ke fase gugur.
Dengan kekompakan, tim ini pun melaju hingga final. Di partai puncak, Gianyar harus menghadapi sesama tim Bali, Lentera Badung-Bali. Laga berlangsung ketat, dengan skor akhir 13-12. Terpaut hanya satu poin, Gianyar pun bawa pulang medali perak dan hadiah uang Rp 15 juta.
“Gateball itu kadang ditentukan oleh detail kecil. Posisi bola terakhir, kondisi lapangan, bahkan arah angin. Kami kalah tipis, tapi bukan berarti kalah kualitas,” kata Erlangga bangga.
Kekuatan utama Gianyar terletak pada kekompakkan di antara mereka. Meski secara formal baru disatukan dalam format tripel campuran, para pemain sudah lama saling mengenal di berbagai ajang. Erlangga dan Riantini bahkan pernah berpasangan di nomor dobel campuran dan meraih emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024.
“Latihan bersama kami jalani bertahun-tahun. Jadi di lapangan, komunikasi sudah mengalir. Strategi pun relatif cepat disepakati,” ujar Komang Tegar, atlet termuda dalam tim.
Tegar juga bukan nama baru. Ia mulai bermain gateball sejak usia belasan tahun dan telah mencicipi atmosfer turnamen internasional. Bagi Tegar, bermain di Piala Menteri PU adalah sebuah kebanggaan.
“Pesertanya 64 tim. Ini luar biasa. Atmosfernya berbeda. Dari sini kami belajar banyak,” katanya.
Awalnya Iseng
Hal serupa dirasakan Ni Wayan Riantini. Perempuan yang mengenal gateball lewat kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kini menjelma menjadi atlet andalan Gianyar. “Awalnya cuma iseng. Tapi lama-lama gateball jadi bagian hidup. Apalagi setelah merasakan PON dan turnamen internasional seperti ini,” ujarnya.
Bagi I Gusti Made Wisnawa, capaian perak di Jakarta adalah bukti konsistensi pembinaan daerah. “Kami mungkin belum juara, tapi ini menunjukkan Gianyar selalu ada di papan atas,” katanya.
Diganjar hadiah Rp 15 juta untuk raihan perak, bisa jadi bukanlah tujuan utama Erlangga dan kawan-kawan. Yang jauh lebih penting adalah bertambahnya pengalaman dan pengakuan atas prestasi yang ditorehkan. Seluruh anggota tim sepakat, target berikutnya adalah panggung yang lebih tinggi. “Mimpi kami jelas: SEA Games. Kalau bisa, lanjut ke Asia,” ujar Erlangga.
Mereka juga berharap kejuaraan internasional, seperti Piala Menteri PU, terus digelar secara rutin, bahkan diperluas dengan menambah jumlah peserta. (HRZ/PAH)