Di usianya yang hampir delapan dekade, Suryanto masih semangat untuk mengikuti turnamen. Baginya pembinaan dan penyebaran klub yang lebih merata dan tampil di ajang-ajang internasional, Gateball Indonesia bisa maju.
Di sebuah rumah sederhana yang sekaligus menjadi tempat penyimpanan peralatan olahraga Gateball, Suryanto menyambut wawancara Tabloid Gateball dengan senyum tenang. Usianya telah menginjak 78 tahun, namun semangatnya terhadap gateball—olahraga yang telah menemaninya selama puluhan tahun tetap menyala. Bagi Suryanto, Gateball bukan sekadar permainan, melainkan perjalanan hidup yang membentuk persahabatan, disiplin, sekaligus pengabdian.
Lahir di Yogyakarta pada Desember 1947, Suryanto menghabiskan masa mudanya sebagai pegawai kehutanan. Sejak kecil, ia dikenal gemar berolahraga. Namun tak pernah terbayang sebelumnya bahwa sebuah olahraga asal Jepang bernama Gateball kelak akan menjadi bagian penting dalam hidupnya, bahkan membawanya berkeliling ke berbagai negara.
Awal Kenal Gateball
Ketertarikan Suryanto pada Gateball bermula di kawasan Kompleks TNI AL Pangkalan Jati, Depok. Saat itu, olahraga ini belum dikenal luas di Indonesia. Ia diperkenalkan oleh almarhum Pak Pangabean, tokoh yang dikenal sebagai pelopor Gateball di Bali sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.
“Waktu itu Gateball belum ada di Jakarta. Pak Pangabean yang dari Bali pindah ke sini karena pensiun, lalu mengumpulkan orang-orang di sekitar Cinere untuk main bersama. Saya ikut dari situ,” kenang Suryanto.
Menurut dia, peralatan Gateball pada masa awal masih sangat sederhana. Stick Gateball berbahan kayu didatangkan langsung dari Jepang. “Alat-alatnya masih kayu semua. Indonesia belum bikin apa-apa waktu itu,” ujarnya.
Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah, kecintaan Suryanto pada Gateball tumbuh. Ia bukan hanya bermain, tetapi juga aktif mengikuti berbagai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri. Bali, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, Tangerang, hingga Singapura, Thailand, Makau (Piala Asia), Jepang (Piala Dunia), Melbourne, dan Taiwan menjadi saksi perjalanan panjangnya sebagai atlet Gateball.
Olahraga Strategi
Bagi Suryanto, daya tarik Gateball bukan pada kekuatan fisik, melainkan perpaduan strategi dan konsentrasi. Ia menggambarkan Gateball sebagai kombinasi catur dan biliar.
“Gateball itu menyenangkan. Tidak butuh tenaga kuat, tapi butuh konsentrasi. Dalam 10 detik kita harus berpikir, menentukan strategi. Jadi olahraganya ada di pikiran dan gerak,” tuturnya.
Menurut dia, inilah yang membuat Gateball bisa dimainkan lintas usia. Ia bahkan masih aktif bermain hingga kini dan bergabung dengan klub PLN Gandul. Di komunitasnya, pemain berusia di atas 80 tahun bukanlah hal asing.
“Di klub kami ada yang umurnya sampai 88 tahun, masih main,” katanya sambil tersenyum.
Pemasok Peralatan
Seiring waktu, keterlibatan Suryanto dalam Gateball tidak berhenti sebagai pemain dan pengurus. Sekitar awal 2010-an, ia mulai menekuni peran baru sebagai pemasok peralatan Gateball dibantu oleh teman pemain Gateball bernama Agus Purnomo yang membantu memasok alat-alat Gateball dari Tiongkok. Awalnya, ia mengaku tak pernah merencanakan terjun ke dunia ini.
“Awalnya ada teman yang menawari, ‘Pak Sur, jual-jual alat Gateball saja.’ Dari situ saya coba,” ungkapnya.
Setelah berpisah dengan rekan awalnya, Suryanto memilih mandiri. Dengan memanfaatkan teknologi—Google dan
Whatsapp—ia menjalin komunikasi langsung dengan pemasok dari Tiongkok dan Jepang. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu dari sedikit pemasok peralatan Gateball di Indonesia.
“Saya ada stok di rumah. Stick, bola, gawang, line, timer—semua ada,” jelasnya.
Saat ini, Suryanto dikenal sebagai salah satu dari tiga pemasok utama peralatan Gateball di Indonesia. Ia menyediakan berbagai pilihan stick Gateball, baik produksi Jepang maupun Tiongkok, dengan rentang harga yang menyesuaikan kualitas dan material.
“Stick Jepang memang lebih mahal, bisa sampai tiga jutaan. Kalau Cina lebih terjangkau,” katanya lugas.
Meski tidak membuka toko fisik, distribusi peralatannya telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Ia bahkan membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin ikut menjual, selama harga tetap mengikuti standar.
Pengabdian Tanpa Pamrih
Di balik perannya sebagai pemasok, Suryanto tetap menempatkan Gateball sebagai sarana kebersamaan. Ia tak pernah mengklaim diri sebagai satu-satunya pemain penting. Baginya, yang terpenting adalah keberlanjutan olahraga ini.
“Saya senang kalau Gateball makin banyak yang main. Kalau orang senang, organisasi bagus, ya jualan juga ikut jalan,” ujarnya.
Suryanto juga sempat terlibat sebagai pelatih dan pengurus di masa awal perkembangan Gateball di Indonesia. Kini, ia memilih tidak lagi aktif di struktur organisasi, namun tetap memberikan masukan berdasarkan pengalaman panjangnya.
Harapan pada Gateball
Menjelang akhir wawancara, Suryanto menyampaikan harapannya untuk masa depan Gateball di Indonesia. Ia berharap pembinaan dan penyebaran klub bisa lebih merata, seiring rencana Indonesia untuk tampil di ajang-ajang internasional, termasuk menuju SEA Games Malaysia 2027.
“Harapan saya, Gateball ini makin terbuka. Klub-klub terbentuk, orang-orang tahu peralatannya, tahu aturannya. Kalau itu jalan, Gateball Indonesia bisa maju,” katanya.
Di usianya yang hampir delapan dekade, Suryanto masih bersiap berangkat ke Thailand untuk mengikuti turnamen. Bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan menjaga ikatan persahabatan lintas negara yang telah terjalin sejak lama.
Gateball, bagi Suryanto, adalah perjalanan hidup. Dari stick kayu sederhana hingga peralatan modern, dari lapangan kecil di Cinere hingga turnamen internasional—ia telah menjadi saksi sekaligus penjaga api Gateball agar tetap menyala di Indonesia. (ROY/PAH)