SEAGU dan Mimpi Gateball Menuju SEA Games 2027

Berita
26 Feb 2026

SEAGU dan Mimpi Gateball Menuju SEA Games 2027

JAKARTA -- Pembentukan South East Asia Gateball Union (SEAGU) pada 12 Desember 2025 di Jakarta bukanlah sekadar seremoni organisasi kawasan. Di baliknya, tersimpan mimpi lama yang kini menemukan momentumnya: membawa gateball tampil sebagai cabang olahraga resmi di SEA Games 2027 Malaysia.

Mimpi itu telah lama disuarakan oleh Ketua Umum PB Pergatsi Diana Kusumastuti. Dalam wawancara via telepon, Senin (29/12/2025), Diana menegaskan bahwa pertemuan dan penandatanganan kesepakatan awal SEAGU menjadi tonggak penting untuk memperjuangkan gateball di tingkat Asia Tenggara.

“Kemarin kita sudah bertemu dengan beberapa negara dan sepakat untuk saling mendukung. Targetnya jelas, gateball bisa dipertandingkan di SEA Games,” ujar Diana.

Kick Off SEAGU dihadiri langsung oleh perwakilan Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sementara Filipina,Singapura, Timor Leste dan negara-negara lainnya  bergabung secara daring. Enam negara ini menjadi fondasi awal pembentukan organisasi kawasan yang akan mengenalkan dan mengoordinasikan pengembangan gateball di Asia Tenggara.

Menurut Diana, langkah cepat perlu diambil karena waktu sangat terbatas. SEA Games 2027 diperkirakan digelar pada April. Artinya, satu tahun sebelumnya—April 2026—seluruh persyaratan cabang olahraga harus sudah dipenuhi. Termasuk keberadaan federasi nasional di negara-negara peserta.

“Kami sudah mulai dari Malaysia dan Brunei. Dukungan Peralatan Gateball sudah kami berikan, dan pelatihan akan segera  dilakukan. Mudah-mudahan awal 2026 sudah dapat direalisasikan,” katanya.

Semangat percepatan itu juga ditegaskan oleh Presiden SEAGU, Khalawi Abdul Hamid. Dalam wawancara terpisah, Khalawi menyebut SEAGU telah memiliki struktur inti: Presiden, Sekretaris Jenderal Bobby Ali Asari, dan Bendahara Arsyad. Struktur ini dianggap cukup untuk percepatan realisasi Program.

Road map kami jelas. Tahun 2026 minimal tujuh negara Asia Tenggara sudah memiliki federasi nasional gateball,” ujar Khalawi.

Prioritas

Prioritas pendampingan diberikan kepada Malaysia, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Filipina dan Singapura dinilai sudah memiliki basis, tinggal diperkuat. Vietnam juga masuk radar pengembangan berikutnya.

Langkah konkret dimulai Januari 2026. SEAGU akan mengirim tim pelatih ke Malaysia dan Brunei, sekaligus melakukan roadshow ke negara-negara yang belum memiliki organisasi gateball. Tujuannya bukan hanya memperkenalkan, tetapi memastikan kesiapan teknis agar para National Federation mampu mengusulkan kepada NOC di negaranya masing-masing, dan memastikan tuan rumah SEA Games percaya diri mengusulkan gateball ke SEA Games Federation (SEAGF) dengan dukungan dari para National Olympic Committee (NOC).

“Kuncinya Malaysia. Kalau mereka yakin dan punya peluang medali, mereka akan lebih berani membawa gateball ke forum SEA Games,” kata Khalawi.

Khalawi juga menyampaikan, bahwa pada 7 Januari 2026, dirinya ikut diundang di turnamen internasional di Thailand. “Dalam kesempatan itu, sekaligus nanti kami akan melakukan pertemuan dengan Asia-Pasific Gateball Union (APGU) untuk mendapat pengakuan dan dukungan bagi SEAGU,” kata Khalawi.

Khalawi optimistis SEAGU mendapatkan dukungan dari negara-negara di Asia Tenggara. “Dengan kehadiran SEAGU, nama Indonesia ikut terangkat,” ujar Khalawi.

Atlet Butuh Mimpi

Dari sisi konseptual, peran penting dijelaskan oleh Juru Bicara SEAGU, Johanna Ambar. Dalam wawancara via Zoom, Minggu (28/12/2025), Ambar menuturkan bahwa pembentukan SEAGU berangkat dari kesadaran bahwa Indonesia tidak bisa berjuang sendirian.

Ia mengakui, mimpi ini sudah lama tersimpan sejak 2013–2014. Namun, berbagai hambatan membuatnya kerap tertunda. Dorongan kuat dari Ketua Umum PB Pergatsi membuat mimpi itu kembali dihidupkan.

Bagi Ambar, persoalan gateball bukan soal prestasi semata, melainkan soal masa depan olahraga. Tanpa jenjang kompetisi internasional, atlet akan kehilangan arah.

“Atlet butuh mimpi dan pengakuan atas prestasinya. Harapan gateball dapat mengantar mereka menuju karir dan peningkatan kehidupan yang diimpikannya.  Dari kejuaraan nasional, multi-event International, sampai pengakuan oleh Badan Olahraga Dunia; International Olympic Council/IOC . Kalau itu tidak ada, gateball akan kurang diminati oleh atlet-atlet muda,” katanya.

SEAGU pun lahir dengan visi besar: menjadi otoritas gateball Asia Tenggara yang inklusif, berintegritas, dan inovatif. Target jangka pendeknya jelas—SEA Games 2027. Target jangka panjangnya lebih ambisius: memastikan gateball terus hadir di SEA Games berikutnya, Asian Games, Olympic Games dan multi event international lainnya.

Untuk mendaftarkan gateball sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di SEA Games Malaysia 2027 harus dilakukan setahun sebelumnya. “Jadi, SEAGU praktis punya waktu hingga April 2026,” ujar Ambar.

Di tengah keterbatasan waktu, kerja SEAGU berlangsung nyaris tanpa jeda dibarengi overtime beberapa hari ini, bahkan di masa libur Natal dan Tahun Baru. Tim menyiapkan skenario pengambilan scene, editing, video tutorial berbahasa Inggris, hingga panduan teknis untuk negara calon anggota. “Ini bukan kerja simbolik. Ini kerja serius,” tegasnya.

Jika upaya ini berhasil, SEAGU–yang diinisiasi oleh Indonesia–bukan hanya akan mencatat sejarah bagi gateball Asia Tenggara, tetapi juga menjadi langkah awal membawa gateball bisa berjaya di Olimpiade. (HRZ/PAH)