Kontingen gateball Indonesia mendapat pengalaman yang tidak terlupakan saat mengikuti turnamen internasional di Bhubaneswar, Odisha, India. Selain sambutan hangat dan fasilitas mewah yang diberikan tuan rumah, para peserta juga menemukan sejumlah perbedaan mencolok dalam pelaksanaan pertandingan dibanding turnamen di Indonesia.
Faiz, salah satu anggota delegasi, menceritakan bahwa layanan yang mereka terima benar-benar istimewa. “Kita dikasihkan hotel mewah, makan tiga kali sehari, dibawa ke pantai, bahkan ke Taj Mahal. Sambutannya sampai membuat kita malu hati,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).
Para pejabat daerah dan pimpinan federasi olahraga setempat datang silih berganti untuk menyapa kontingen Indonesia. “Dalam satu hari bisa sampai 10 pejabat hadir. Ada yang memberikan penghormatan budaya, termasuk membagi makanan adat hingga mencium kaki sebagai bentuk penghargaan,” katanya.
Dari sisi teknis pertandingan, rombongan Indonesia menemukan bahwa tata laksana turnamen di India berbeda jauh dari standar yang biasa diterapkan di tanah air. Wasit maupun lawan sama sekali tidak menggunakan timer, sehingga ritme permainan terasa lebih longgar. Aturan pukulan 10 detik tidak diberlakukan, membuat pemain bisa mengambil waktu hingga 20 atau 30 detik tanpa dikenai pelanggaran.
Bahkan, pada spot pertama di gawang 1, bola diperbolehkan menyentuh garis—sesuatu yang tidak lazim dalam kompetisi resmi di Indonesia. Selain itu, banyak wasit yang terlihat belum memahami aturan permainan secara utuh, sehingga sejumlah keputusan berjalan tidak konsisten. Komando waktu mulai dan selesai pertandingan pun tidak diberikan wasit di lapangan, melainkan semata-mata melalui pengeras suara dari meja panitia, tanpa dukungan timer atau lampu penanda resmi.
Meski menghadapi berbagai kondisi tersebut, kinerja tim Indonesia tetap solid. Pada nomor beregu, dua tim berhasil lolos penyisihan, dengan satu tim melaju hingga delapan besar.
Di nomor dobel bebas, dua dari lima tim mencapai perempat final. Rombongan yang beranggotakan 13 orang—mayoritas pensiunan berusia 58 hingga 78 tahun—akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Sri Lanka untuk transit, di mana mereka kembali disambut hangat oleh KBRI Colombo yang menyiapkan kamar dan fasilitas lengkap.
“Kesan kami sangat mendalam. India dan Sri Lanka benar-benar menghargai tamu. Pelayanan mereka luar biasa,” ujar Faiz. Delegasi dijadwalkan pulang ke Jakarta pada Sabtu (6/12) dan bersiap mengikuti turnamen berikutnya di Thailand pada Januari mendatang. (PAH/HRZ)