Gading Gateball Club (GGC) Jakarta Utara terus
menegaskan eksistensinya sebagai salah satu klub gateball yang konsisten
mengembangkan pembinaan atlet secara terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis
komunitas.
Di bawah kepemimpinan Edy Purwanto selaku pendiri
sekaligus owner, GGC tidak hanya membidik prestasi, tetapi juga membangun
ekosistem gateball yang inklusif lintas usia, sehat, dan berorientasi jangka
panjang.
Diwawancarai Tabloid Gateball, Jumat (26/12/2025), Edy
Purwanto menuturkan bahwa GGC dirintis sekitar tiga tahun lalu, berangkat dari
keprihatinan sekaligus keyakinan bahwa gateball memiliki potensi besar untuk
tumbuh sebagai olahraga prestasi dan olahraga masyarakat.
“GGC kami rintis sekitar tiga tahun lalu. Fokus
kami sejak awal bukan hanya prestasi, tetapi membangun komunitas gateball yang
menjunjung sportivitas, hidup sehat, dan inklusif lintas usia. Kami ingin GGC
menjadi rumah bersama bagi atlet, penggiat, dan klub gateball lainnya,” ujar
Edy Purwanto.
Menurut dia, tantangan terbesar di masa awal
pendirian adalah rendahnya popularitas gateball. Namun justru dari kondisi
itulah GGC melihat peluang strategis untuk melakukan pembinaan sejak dini
secara serius dan terarah.
“Karena gateball belum sepopuler sekarang, di
situlah tantangannya. Tapi justru kami melihat ini sebagai investasi jangka
panjang. Gateball itu unik, bisa dimainkan dari remaja sampai lansia, dan
mengandung unsur strategi yang kuat,” jelasnya.
Pusat Pembinaan Gateball
Sejak awal, GGC dibangun dengan visi yang jelas,
yakni menjadi pusat pembinaan gateball yang profesional, berprestasi, dan
berintegritas. Edy menegaskan, target jangka panjang GGC adalah melahirkan
atlet-atlet yang mampu berkiprah di level nasional hingga internasional,
sekaligus mendekatkan gateball dengan masyarakat luas.
“Kami ingin atlet GGC bisa berkiprah di level
nasional bahkan internasional. Tapi di saat yang sama, gateball juga harus
menjadi olahraga yang nyaman dan dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, GGC menetapkan tiga
pilar utama program pengembangan klub. Pilar pertama adalah pembinaan atlet
berjenjang, kedua penyelenggaraan turnamen gateball secara rutin dan sesuai
regulasi, dan ketiga pengembangan Jakarta Gateball Academy sebagai ekosistem
pembelajaran gateball.
Salah satu kekuatan utama GGC terletak pada sistem
pembinaan atlet berjenjang yang dirancang secara sistematis. Saat ini, GGC
memiliki 33 atlet resmi yang terdaftar di Persatuan Gateball Seluruh Indonesia
(Pergatsi). Dari jumlah tersebut, pembinaan dilakukan melalui sistem
klasifikasi master, senior, junior, hingga calon atlet pemula.
“Kami punya sistem berjenjang. Ada master, senior,
junior, hingga pemula. Setiap master membina minimal tiga atlet senior, dan
setiap senior wajib membina atlet junior. Ini kami lakukan agar pembinaan
berjalan berkesinambungan,” terang Edy.
Saat ini, GGC telah memiliki tiga atlet yang
menyandang status master, yakni Thomas Gentur, Khori, dan Agus Rindra.
Penetapan master dilakukan melalui sistem penilaian berbasis kompetisi internal
yang digelar rutin setiap bulan.
“Setiap bulan kami menggelar event internal, bisa
single, double, atau triple. Dari situ ada skor yang dikumpulkan selama satu
tahun. Atlet dengan nilai tertinggi kami tetapkan sebagai master,” jelasnya.
Meski demikian, Edy mengakui bahwa tantangan masih
dirasakan, khususnya dalam pembinaan atlet perempuan. Minat dan konsistensi
latihan menjadi faktor yang masih perlu diperkuat ke depan.
Turnamen Rutin
Selain pembinaan atlet, GGC juga aktif
menyelenggarakan berbagai turnamen gateball. Selain event resmi seperti Wali
Kota Cup Jakarta Utara yang digelar setiap tahun, GGC juga rutin mengadakan
turnamen nonresmi hingga dua kali dalam sebulan.
Keunggulan lain GGC adalah ketersediaan
infrastruktur. Saat ini, GGC memiliki lima lapangan gateball dengan standar
kelayakan yang baik, sehingga menjadi daya tarik bagi klub-klub lain di wilayah
Jakarta dan sekitarnya.
“Lapangan gateball di Jakarta itu terbatas.
Alhamdulillah, kami punya lima lapangan dengan standar yang cukup baik. Karena
itu, klub-klub dari Jakarta Utara, Timur, Barat, hingga Pusat mulai bergabung
dan berlatih bersama di sini,” ujar Edy.
Keberadaan lapangan tersebut turut mendorong GGC
menjadi simpul aktivitas gateball kawasan Jakarta, baik untuk latihan rutin,
pertandingan, maupun pembinaan bersama antar-klub.
Jakarta Gateball Academy
Pilar ketiga yang kini terus dikembangkan adalah
Jakarta Gateball Academy. Program ini dirancang sebagai wadah edukasi dan
regenerasi gateball, mulai dari calon atlet muda, wasit, hingga pelatih.
“Kami sudah mulai bekerja sama dengan beberapa
sekolah di sekitar untuk menjadikan gateball sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
Tidak hanya menjaring peminat, tapi juga mencari bibit atlet,” ungkap Edy.
Ia mengakui bahwa menarik minat generasi muda
terhadap gateball bukan perkara mudah. Namun, GGC terus mencoba berbagai
pendekatan, termasuk penyusunan modul, dokumentasi aktivitas, hingga
pemanfaatan media digital.
Prestasi
Upaya pembinaan berkelanjutan yang dilakukan GGC
mulai membuahkan hasil. Dalam sejumlah kejuaraan nasional dan internasional,
atlet-atlet GGC telah menunjukkan capaian yang membanggakan.
Pada ajang Turnamen Internasional Piala Menteri
yang digelar pada 12–14 Desember 2025, tim GGC berhasil meraih peringkat
keempat kategori beregu campuran. Selain itu, pada Sariater Open Tournament,
GGC juga mencatatkan prestasi dengan finis di posisi keempat kategori triple.
“Kami memang belum menargetkan juara satu, tapi
bisa naik panggung di event internasional itu sudah menjadi pencapaian penting
bagi kami,” kata Edy.
Di level nasional, GGC juga tampil kompetitif,
antara lain pada Sleman Cup dan sejumlah kejuaraan dengan kategori khusus,
termasuk kelompok usia di atas 70 tahun.
Ke depan, GGC tengah menggagas pembentukan Jakarta
Gateball Center (JGC) sebagai wadah kolaborasi klub-klub gateball di Jakarta.
Konsep ini tidak hanya mencakup pembinaan dan kompetisi, tetapi juga dukungan
fasilitas, penyelenggaraan event, hingga pusat distribusi perlengkapan
gateball.
“Jakarta Gateball Center kami siapkan sebagai hub.
Kalau ada yang bertanya beli perlengkapan gateball di mana, jawabannya satu, di
situ. Tapi kami tidak murni bisnis, ini untuk mendukung ekosistem gateball
secara keseluruhan,” jelas Edy.
Selain itu, JGC juga diarahkan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan fasilitas umum yang terbengkalai agar dapat dihidupkan kembali
melalui aktivitas olahraga gateball.
Olahraga Inklusif
Bagi Edy Purwanto, gateball bukan sekadar olahraga
kompetitif, tetapi juga sarana membangun kualitas hidup. Ia merasakan langsung
manfaat gateball terhadap kesehatan dan kenyamanan komunitasnya.
“Gateball ini inklusif. Anak-anak bisa, lansia juga
bisa. Kami punya anggota usia 73 tahun dan masih aktif bertanding. Secara
pribadi, saya merasakan kesehatan lebih baik, asam urat dan kolesterol jauh
berkurang,” tuturnya.
Ia menambahkan, kekuatan gateball juga terletak
pada karakter komunitasnya yang hangat dan egaliter.
“Menang atau kalah, yang penting kebersamaan. Ngopi
bareng, makan bareng, itu yang membuat gateball punya daya tarik tersendiri,”
pungkasnya.
Dengan fondasi pembinaan yang kuat, prestasi yang
mulai terukir, serta gagasan besar Jakarta Gateball Center, Gading Gateball
Club Jakarta Utara menatap masa depan dengan optimisme sesuai dengan tagline
GGC “Yes We Can,”..!.
GGC tidak hanya ingin dikenal sebagai klub
berprestasi, tetapi juga sebagai motor penggerak pengembangan gateball yang
berkelanjutan di Indonesia. (PAH/SAL)