GGC Perkuat Pembinaan Berjenjang dan Bidik Peran Strategis Pengembangan Gateball Nasional

Artikel
28 Feb 2026

GGC Perkuat Pembinaan Berjenjang dan Bidik Peran Strategis Pengembangan Gateball Nasional

Gading Gateball Club (GGC) Jakarta Utara terus menegaskan eksistensinya sebagai salah satu klub gateball yang konsisten mengembangkan pembinaan atlet secara terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis komunitas.

Di bawah kepemimpinan Edy Purwanto selaku pendiri sekaligus owner, GGC tidak hanya membidik prestasi, tetapi juga membangun ekosistem gateball yang inklusif lintas usia, sehat, dan berorientasi jangka panjang.

Diwawancarai Tabloid Gateball, Jumat (26/12/2025), Edy Purwanto menuturkan bahwa GGC dirintis sekitar tiga tahun lalu, berangkat dari keprihatinan sekaligus keyakinan bahwa gateball memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai olahraga prestasi dan olahraga masyarakat.

“GGC kami rintis sekitar tiga tahun lalu. Fokus kami sejak awal bukan hanya prestasi, tetapi membangun komunitas gateball yang menjunjung sportivitas, hidup sehat, dan inklusif lintas usia. Kami ingin GGC menjadi rumah bersama bagi atlet, penggiat, dan klub gateball lainnya,” ujar Edy Purwanto.

Menurut dia, tantangan terbesar di masa awal pendirian adalah rendahnya popularitas gateball. Namun justru dari kondisi itulah GGC melihat peluang strategis untuk melakukan pembinaan sejak dini secara serius dan terarah.

“Karena gateball belum sepopuler sekarang, di situlah tantangannya. Tapi justru kami melihat ini sebagai investasi jangka panjang. Gateball itu unik, bisa dimainkan dari remaja sampai lansia, dan mengandung unsur strategi yang kuat,” jelasnya.

Pusat Pembinaan Gateball

Sejak awal, GGC dibangun dengan visi yang jelas, yakni menjadi pusat pembinaan gateball yang profesional, berprestasi, dan berintegritas. Edy menegaskan, target jangka panjang GGC adalah melahirkan atlet-atlet yang mampu berkiprah di level nasional hingga internasional, sekaligus mendekatkan gateball dengan masyarakat luas.

“Kami ingin atlet GGC bisa berkiprah di level nasional bahkan internasional. Tapi di saat yang sama, gateball juga harus menjadi olahraga yang nyaman dan dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, GGC menetapkan tiga pilar utama program pengembangan klub. Pilar pertama adalah pembinaan atlet berjenjang, kedua penyelenggaraan turnamen gateball secara rutin dan sesuai regulasi, dan ketiga pengembangan Jakarta Gateball Academy sebagai ekosistem pembelajaran gateball.

Salah satu kekuatan utama GGC terletak pada sistem pembinaan atlet berjenjang yang dirancang secara sistematis. Saat ini, GGC memiliki 33 atlet resmi yang terdaftar di Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (Pergatsi). Dari jumlah tersebut, pembinaan dilakukan melalui sistem klasifikasi master, senior, junior, hingga calon atlet pemula.

“Kami punya sistem berjenjang. Ada master, senior, junior, hingga pemula. Setiap master membina minimal tiga atlet senior, dan setiap senior wajib membina atlet junior. Ini kami lakukan agar pembinaan berjalan berkesinambungan,” terang Edy.

Saat ini, GGC telah memiliki tiga atlet yang menyandang status master, yakni Thomas Gentur, Khori, dan Agus Rindra. Penetapan master dilakukan melalui sistem penilaian berbasis kompetisi internal yang digelar rutin setiap bulan.

“Setiap bulan kami menggelar event internal, bisa single, double, atau triple. Dari situ ada skor yang dikumpulkan selama satu tahun. Atlet dengan nilai tertinggi kami tetapkan sebagai master,” jelasnya.

Meski demikian, Edy mengakui bahwa tantangan masih dirasakan, khususnya dalam pembinaan atlet perempuan. Minat dan konsistensi latihan menjadi faktor yang masih perlu diperkuat ke depan.

Turnamen Rutin

Selain pembinaan atlet, GGC juga aktif menyelenggarakan berbagai turnamen gateball. Selain event resmi seperti Wali Kota Cup Jakarta Utara yang digelar setiap tahun, GGC juga rutin mengadakan turnamen nonresmi hingga dua kali dalam sebulan.

Keunggulan lain GGC adalah ketersediaan infrastruktur. Saat ini, GGC memiliki lima lapangan gateball dengan standar kelayakan yang baik, sehingga menjadi daya tarik bagi klub-klub lain di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

“Lapangan gateball di Jakarta itu terbatas. Alhamdulillah, kami punya lima lapangan dengan standar yang cukup baik. Karena itu, klub-klub dari Jakarta Utara, Timur, Barat, hingga Pusat mulai bergabung dan berlatih bersama di sini,” ujar Edy.

Keberadaan lapangan tersebut turut mendorong GGC menjadi simpul aktivitas gateball kawasan Jakarta, baik untuk latihan rutin, pertandingan, maupun pembinaan bersama antar-klub.

Jakarta Gateball Academy

Pilar ketiga yang kini terus dikembangkan adalah Jakarta Gateball Academy. Program ini dirancang sebagai wadah edukasi dan regenerasi gateball, mulai dari calon atlet muda, wasit, hingga pelatih.

“Kami sudah mulai bekerja sama dengan beberapa sekolah di sekitar untuk menjadikan gateball sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tidak hanya menjaring peminat, tapi juga mencari bibit atlet,” ungkap Edy.

Ia mengakui bahwa menarik minat generasi muda terhadap gateball bukan perkara mudah. Namun, GGC terus mencoba berbagai pendekatan, termasuk penyusunan modul, dokumentasi aktivitas, hingga pemanfaatan media digital.

Prestasi

Upaya pembinaan berkelanjutan yang dilakukan GGC mulai membuahkan hasil. Dalam sejumlah kejuaraan nasional dan internasional, atlet-atlet GGC telah menunjukkan capaian yang membanggakan.

Pada ajang Turnamen Internasional Piala Menteri yang digelar pada 12–14 Desember 2025, tim GGC berhasil meraih peringkat keempat kategori beregu campuran. Selain itu, pada Sariater Open Tournament, GGC juga mencatatkan prestasi dengan finis di posisi keempat kategori triple.

“Kami memang belum menargetkan juara satu, tapi bisa naik panggung di event internasional itu sudah menjadi pencapaian penting bagi kami,” kata Edy.

Di level nasional, GGC juga tampil kompetitif, antara lain pada Sleman Cup dan sejumlah kejuaraan dengan kategori khusus, termasuk kelompok usia di atas 70 tahun.

Ke depan, GGC tengah menggagas pembentukan Jakarta Gateball Center (JGC) sebagai wadah kolaborasi klub-klub gateball di Jakarta. Konsep ini tidak hanya mencakup pembinaan dan kompetisi, tetapi juga dukungan fasilitas, penyelenggaraan event, hingga pusat distribusi perlengkapan gateball.

“Jakarta Gateball Center kami siapkan sebagai hub. Kalau ada yang bertanya beli perlengkapan gateball di mana, jawabannya satu, di situ. Tapi kami tidak murni bisnis, ini untuk mendukung ekosistem gateball secara keseluruhan,” jelas Edy.

Selain itu, JGC juga diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas umum yang terbengkalai agar dapat dihidupkan kembali melalui aktivitas olahraga gateball.

Olahraga Inklusif

Bagi Edy Purwanto, gateball bukan sekadar olahraga kompetitif, tetapi juga sarana membangun kualitas hidup. Ia merasakan langsung manfaat gateball terhadap kesehatan dan kenyamanan komunitasnya.

“Gateball ini inklusif. Anak-anak bisa, lansia juga bisa. Kami punya anggota usia 73 tahun dan masih aktif bertanding. Secara pribadi, saya merasakan kesehatan lebih baik, asam urat dan kolesterol jauh berkurang,” tuturnya.

Ia menambahkan, kekuatan gateball juga terletak pada karakter komunitasnya yang hangat dan egaliter.

“Menang atau kalah, yang penting kebersamaan. Ngopi bareng, makan bareng, itu yang membuat gateball punya daya tarik tersendiri,” pungkasnya.

Dengan fondasi pembinaan yang kuat, prestasi yang mulai terukir, serta gagasan besar Jakarta Gateball Center, Gading Gateball Club Jakarta Utara menatap masa depan dengan optimisme sesuai dengan tagline GGC “Yes We Can,”..!.

GGC tidak hanya ingin dikenal sebagai klub berprestasi, tetapi juga sebagai motor penggerak pengembangan gateball yang berkelanjutan di Indonesia. (PAH/SAL)